ANALISIS KUALITAS SPERMA DAN OVARIUM (laporan praktikum)

Sistem reproduksi adalah suatu sistem organ di dalam tubuh organisme yang dapat bekerja bersama untuk satu tujuan, yaitu reproduksi. Berbagai macam substansi seperti cairan, hormon, dan feromon juga merupakan suatu pelengkap yang penting untuk sistem reproduksi. Pada manusia dan mayoritas organisme eukariotik lainnya yang sudah mengalami diferensiasi, alat kelamin dan sel kelamin seringkai mempunyai perbedaan yang signifikan. Perbedaan inilah yang menjadikan adanya kombinasi materi genetik dari dua individu dan menyebabkan adanya kemungkinan diversitas genetik. Organ yang ada pada makhluk hidup tingkat tinggi meliputi genitalia eksterna (penis dan vulva) dan genitalia interna (testis dan ovarium). Jika terjadi suatu kelainan dalam sistem reproduksi, maka akan sangat berpengaruh pula pada kemampuan gamet untuk melakukan fungsinya. Kualitas sistem reproduksi dapat dilakukan pada level gamet, misalnya dilakukan analisis terhadap sperma atau ovum. Analisis sperma adalah pemeriksaan untuk menilai ciri dan mutu spermatozoa dalam air mani, agar dapat dinilai apakah terdapat ketidaknormalan yang dapat mengganggu kesuburan dan menghambat terjadinya pembuahan (The Fertility Institute, 2009).


Analisis Kualitas Sperma

Analisis sperma meliputi volume, konsentrasi, motilitas, dan morfologi. Volume sperma yang normal pada sekali ejakulasi saja minimal adalah 2 ml. Jika kurang dari jumlah tersebut, maka disebut aspermia yang berarti tidak ada semen. Konsentrasi sperma pada ejakulat yang normal paling sedikit adalah 20 juta/ml. Bila kurang, disebut oligozoospermia. Atau jika sperma tidak ditemukan sama sekali pada cairan ejakulat, disebut azoospermia. Motilitas sel sperma yang normal, baik yang lemah dan yang cepat adalah lebih dari 50%, atau >25% sel sperma yang bergerak cepat, jika kurang, disebut asthenozoospermia. Pada morfologi yang normal tidak didapatkan kelainan bentuk. Namun jika bentuk normal dijumpai kurang dari 15%, maka termasuk teratozoospermia. Uji-uji lain selain analisis sperma adalah Uji MAR yaitu untuk menguji adanya penyakit autoimun dimana didapatkan antibodi antisperma. Uji lain adalah uji viabilitas sperma, penghitungan leukosit, kultur bakteri, uji Chlamidya PCR, dan interaksi sperma dengan lendir serviks

Sperma yang kurang baik tidak akan mampu membuahi sel telur yang letaknya cukup jauh dari vagina. Ejakulasi yang kuat saja tidak cukup, sebab kemampuan membuahi tergantung pada kualitas dan kuantitas sperma.
Berdasarkan hasil analisa sperma dapat diketahui kelainan kelainan pada sperma seperti :
  1. Oligospermia : jumlah sperma lebih kecil dari normal, normalnya jumlah sperma adalah lebih dari 40 juta/ ejakulasi
  2. Asthenozoospermia : motilitas sperma kurang dari normal, motilitas sperma yang normal menurut World Health Orgaization (WHO) adalah lebih dari 50%
  3. Teratozoozpermia : sperma normal kurang dari 14%

Pergerakan sperma atau sperm motility mempelajari jumlah sperma yang bergerak dan terlihat dalam spesimen ejakulat. Motilitas sperma adalah salah satu fungsi sperma yang tergantung pada suhu, sehingga setiap perlakuan yang dilakukan dalam analisis kualitas sperma sangat penting untuk diperhatikan. Sehingga sangat disarankan untuk melakukan analisis sesegera mungkin setelah sperma dikeluarkan atau proses pengeluaran dilakukan di dalam laboratorium dimana dapat diatur kondisinya. Sperma diketahui tidak akan dapat hidup dalam jangka waktu yang lama dalam semen, dan di luar semen, sperma akan secara cepat meninggalkan semen untuk memasuki mukus serviks. Motilitas normal sperma yaitu sebesar 60% atau lebih. Namun ada pula yang menganggap bahwa nilai motilitas sperma sebesar 40% masih dianggap normal.
Beberapa kelainan yang berkaitan dengan motilitas sperma antara lain asthenozoospermia dan necrozoospermia. Asthenozoospermia adalah penurunan motilitas sperma. Jika ditemukan, maka dapat diakibatkan oleh adanya kondisi laboratorium yang tidak mendukung, adanya abnormalitas spermatogenesis, masalah dalam maturasi sperma dalam epididimis, abnormalitas transport, dan adanya varicocele., sedangkan necrozoospermia adalah tidak adanya gerakan sperma sama sekali. Namun, pada dasarnya sperma yang mengalami necrozoospermia termasuk sperma yang normal dalam hal materi genetiknya (The Fertility Institute, 2009).


Pengamatan Ovarium

Ovarium atau indung telur adalah kelenjar kelamin betina pada hewan dan manusia.Pada makhluk vertebrata termasuk manusia, mempunyai dua buah ovarium yang berfungsi memproduksi sel telur dan mengeluarkan hormon. Ovarium pada hewan betina merupakan gudang dan tempat produksi oosit. Setiap ovarium mengandung oosit dalam jumlah yang sangat banyak, tetapi hanya sedikit sekali dari jumlah oosit tersebut yang dimatangkan dan diovulasikan selama masa subur atau pada masa reproduktif. Meskipun secara in vitro atau superovulasi dapat dihasilkan oosit matang (mature oocytes) dalam jumlah yang lebih banyak, dari jumlah itu masih sedikit sekali oosit yang dapat difertilisasi (Sumarmin, dkk., 2007).

Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan folikel-folikel di dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 folikel yang terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1, dan folikel tersebut berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga hipofisis mengeluarkan hormon yang kedua yaitu LH. Produksi hormon LH maupun FSH berada di bawah pengaruh releasing hormones yang disalurkan hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen terhadap hipotalamus. Produksi hormon gonadotropin (FSH dan LH) yang baik akan menyebabkan pematangan dari folikel de graaf yang mengandung estrogen. Estrogen mempengaruhi pertumbuhan dari endometrium. Di bawah pengaruh LH, folikel de graaf menjadi matang sampai terjadi ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum yang akan menjadi korpus luteum, di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormones, suatu hormon gonadotropik). Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan (Klik Dokter, 2008).

Siklus ovarium :

  1. Fase folikular. Pada fase ini hormon reproduksi bekerja mematangkan sel telur yang berasal dari 1 folikel kemudian matang pada pertengahan siklus dan siap untuk proses ovulasi (pengeluaran sel telur dari indung telur). Waktu rata-rata fase folikular pada manusia berkisar 10-14 hari, dan variabilitasnya mempengaruhi panjang siklus menstruasi keseluruhan
  2. Fase luteal. Fase luteal adalah fase dari ovulasi hingga menstruasi dengan jangka waktu rata-rata 14 hari

Cara kerja

  1. Pengamatan Kualitas Sperma Sapi: Sperma yang digunakan dalam praktikum ini adalah sperma sapi straw dan sperma sapi afkir. Sperma sapi straw pertama kali dimasukkan dalam water bath pada suhu 37°C. Kemudian diletakkan pada gelas objek dan ditutup dengan kaca penutup dan diamati pergerakan atau motilitas, dan bentuk sel-sel sperma tersebut. Pengamatan sperma afkir dilakukan dengan meletakkan sperma di dalam cawan petri dan diukur pHnya menggunakan indikator pH, diukur kekentalan atau viskositasnya, dan diamati menggunakan mikroskop cahaya untuk pergerakan dan bentuk selnya.
  2. Pengamatan Ovarium Kambing: Ovarium kambing diletakkan dalam cawan petri dan diamati bentuk folikel yang ada di permukaan ovarium. Jika ada, diamati adanya folikel primer, sekunder, de graaf, dan adanya corpus luteum. Selain itu, dapat pula dilakukan pembedahan untuk mengamati anatomi ovarium

untuk hasil dan pembahasan yang lengkap tentang pengamatan tersebut, silakan ikuti link di bawah ini untuk mendownload file pdf-nya.

DOWNLOAD FILE: ANALISIS SPERMA DAN OVARIUM



Selamat belajar!!...

Ingat, piracy is a CRIME!!...

Tulisan Terkait



2 comments:

Anonymous said...

dokter bilang kalau motilitas sperma 40% masaih bisa di anggap normal
terus kalau misal 40 % itu yang bergerak cepat hanya 10% < padahal harus lebih dr 25% > dan yg normal tp lambat itu 30 %
apakah itu masih bisa dikatakan normal???
terimakasih,mohon jawabanya

Praptomowow said...

seperti yang sudah dijelaskan di atas... kenormalan fisiologi sperma tidak hanya ditunjang dari segi motilitas saja, tapi juga bentuk. jika memang terjadi kelambatan dalam motilitas sperma, maka belum tentu juga disebut tidak normal karena hanya dilihat dari segi motilitas, padahal masih ada juga parameter yang lainnya, misalnya bentuk, jumlah dan lain-lain, dan semua parameter tersebut sangat berkaitan untuk menentukan kualitas sperma. (better you go see the expert)

Post a Comment

New Category!!

Beberapa hal yang penting untuk diketahui para remaja pada saat mulai memasuki usia puber. KLIK!!

KAMU UPLOAD, DAPET DUIT!!! FILE HOSTING GRATISS!!