Antibody production and specificity testing Through Antigen-Antibody Reaction by Dot Blot Method

The reaction between antigen and antibody can be observed by various methods, one using a dot blot. The purpose of this lab is to know how to produce and the collection of antibodies, antibody purification by knowing how to use the method of salting out and find out the results of testing the specificity of antibodies by dot blot technique.Procedures performed include the collection and measurement of serum levels of serum proteins, purification and detection of serum antigen-antibody reaction by dot blotting method. Based on lab results showed that the antibodies will bind specifically with antigens.This can be seen from the affinity of a thick dot in the high affinity between the serum with the appropriate antiserum. Affinity is indicated by the density of color intensity. Highest color intensity is on Rat sample 10 (g / ml) for the primary antibody rat anti-rabbit serum with a density of intensity 961,961.4137 per square mm. While the sample has the lowest color intensity in the sample with primary antibodies rabbit anti-rat rabbit serum with intensity density 702,001.5184 per square mm although color also appears on the control. The emergence of color on the control is possibly caused the bond between the substrate and enzyme. The enzyme itself is in the secondary antibody provided in the control.

for full text in .doc format, You can download the file.

artikel terkait:

Lymphocytes Isolation From Lymphoid Organs (Immunology Lab Work Report))
Antigen Presentation to T Lymphocyte
Read More..

Toxicity Test Of Subacute Detergent Surfactant To Gastropoda River

In a few semesters ago, I got the assignment to investigate the effect of surfactant concentration on a few gastropods river. I was with friends at the lab doing experiments in which the use of a species of Melanoides granifera. The following is a summary I can give and for a more complete files you can download it at the link below the summary


Water is an essential requirement for the process of life on this earth. Clean water is highly desirable by most people either for everyday purposes, for industrial purposes, for agricultural purposes and so forth. But today, a lot of water pollution occurs, especially in urban areas. Pollution can be caused by human activity both from household waste, sewage or industrial activity other activities. Household waste is often a problem is a waste of detergent. Tests on toxic materials from wastewater treatment can be performed with sublethal bioassay methods are static acute effects on animals gastropods (Melanoides granifera).

practicum report (. doc files (Indonesian))
Read More..

Lymphocytes Isolation From Lymphoid Organs (Immunology Lab Work Report))

By: Praptomo Dwi Waluyo
Biology Study Program, Faculty Mathematics and Science, Brawijaya University

Lymphocytes isolation can be done preceded by antigen injection, booster, and taking the lymphoid organs from the mice. The aim of this laboratory practice are to know about the antigen injection procedure, booster process and lymphocytes isolation from the lymphoid organs in mice. The antigen injected to the mice is E. coli in different number (107, 108 and 109 cells/mL), and the booster done with the same technique in antigen injection a week after the antigen injection. The observation about body weight, physiology, and the number of lymphocyte found was done. The lymphoid organs removed are spleen, thymus, lymph node, mesenteric lymph node and Peyer’s patch. There are slight connection between the antigen concentration added to the mice via intraperitoneal. It can be observed from the body weight during the process (about 2 weeks). It shows the fluctuation of the body weight and shows that the addition 107 cells/ mL give the heavier body weight than 109 cells/mL. Otherwise, the concentration of antigen injected to the mice can not related to the number of lymphocyte counted yet. This is because of the procedural error during the lymphoid organs removal, so that there is no comparation between lymphoid organs withdrawed from the mice.

Keywords: Antigen injection, Booster, Lymphocytes

for full text (.doc), please download the file
Read More..

Leishmaniasis (Infection Mechanism In The Human Immune System)

Leishmaniasis is a disease caused by protozoan parasites that belong to the genus Leishmania and is transmitted by the bite of certain species of sand fly (subfamily Phlebotominae). Although the majority of the literature mentions only one genus transmitting Leishmania to humans (Lutzomyia) in the Americas, a 2003 study by Galati suggested a new classification for the New World sand flies, elevating several subgenera to the genus level. Elsewhere in the world, the genus Phlebotomus is considered the vector of leishmaniasis.[1]

Most forms of the disease are transmissible only from animals (zoonosis), but some can be spread between humans. Human infection is caused by about 21 of 30 species that infect mammals. These include the L. donovani complex with three species (L. donovani, L. infantum, and L. chagasi); the L. mexicana complex with four main species (L. mexicana, L. amazonensis, and L. venezuelensis); L. tropica; L. major; L. aethiopica; and the subgenus Viannia with four main species (L. (V.) braziliensis, L. (V.) guyanensis, L. (V.) panamensis, and L. (V.) peruviana). The different species are morphologically indistinguishable, but they can be differentiated by isoenzyme analysis, DNA sequence analysis, or monoclonal antibodies.

Cutaneous leishmaniasis is the most common form of leishmaniasis. Visceral leishmaniasis is a severe form in which the parasites have migrated to the vital organs.

I have the resume about this disease. I made it with my friends in my college to fulfill the assignment in Immunology topics.

If u please, download the file (.doc) - Indonesian
Read More..

Antigen Presentation to T Lymphocyte

I got this assignment when I was taking the Immunology at seventh semestre. The lecturer who gave me this assignment was Mr. Muhaimin Rifa'i, PhD. and this is the preview of the paper that I made.
Antigen Presentation to T Lymphocyte
Limfosit dihasilkan dalam organ limfoid primer dan berfungsi dalam organ sekunder tempat sel-selnya mengenali dan bertindak terhadap bahan asing. Pada dasarnya terdapat tiga jenis sel limfosit yaitu sel natural killer (NK), sel T dan sel B, tetapi hanya sel T dan sel B yang mempunyai sepesifisitas dan ingatan untuk suatu antigen.
Dalam tahap awal perkembangannya, limfosit tidak mempunyai reseptor permukaan tetapi apabila telah dewasa (mature), sel ini mulai mengekspresikan reseptor antigen yang berlainan untuk menjadi responsif terhadap stimulasi antigen. Limfosit juga mengekspresikan molekul permukaan yang lain yang penting untuk berinteraksi dengan sel-sel lainnya, termasuk molekul yang diperlukan untuk aktivasi dan untuk pergerakan atau transportasi ke dalam dan ke luar jaringan badan. Molekul permukaan inilah yang bertindak sebagai penanda untuk membedakan sel T dan sel B.
Selain sel B, kelas utama sel-sel limfosit yang lain adalah sel limfosit T. Prekursor sel T dibentuk dalam sum-sum tulang belakang (bone marrow) yang akan bermigrasi dan bermaturasi dalam timus dan karena itulah dikenal sebagai sel T. Sel limfosit T dibagi menjadi dua golongan yaitu sel T helper (Th) dan sel T sitotoksik (Tc). Fungsi utama sel T adalah untuk meregulasi atau mengatur semua respon imun terhadap protein antigen dan bertindak sebagai sel efektor untuk mengatasi dan menghilangkan sel yang mengalami infeksi mikroba atau antigen lainnya dan untuk membantu sel B dengan meningkatkan responnya.
Respon imun terhadap infeksi antigen secara spesifik disebut sebagai imunitas adaptif. Imunitas adaptif memiliki beberapa fase diantaranya adalah fase pengenalan, aktivasi, efektor, homeostasis, dan memori. Respon terbentuknya antibodi merupakan akhir dari serangkaian interaksi antara makrofag, sel T dan sel B terhadap hadirnya antigen (Cruse dan Lewis, 1999). Menurut Abbas dan Lichtman (2005), fase-fase imunitas adaptif adalah:
1. Fase pengenalan antigen
Setiap individu memiliki berbagai klon limfosit, setiap klon tersebut muncul karena adanya prekursor yang mengakibatkan sel mampu mengenali dan merespon antigen yang berbeda. Apabila antigen masuk, maka antigen tersebut akan memilih klon sel yang memiliki reseptor spesifik sesuai dengan antigen tersebut dan mengaktifkan sel penghasil antibodi.
2. Aktivasi Limfosit
Aktivasi sel limfosit memerlukan dua sinyal yaitu dari antigen dan yang kedua adalah dari komponen innate immunity yang merespon adanya mikroba atau sel yang mengalami luka. Respon limfosit terhadap antigen dan sinyal kedua menghasilkan protein baru, proliferasi seluler dan diferensiasi menjadi sel efektor dan sel memori.
3. Fase efektor (eliminasi antigen)
Pada saat fase efektor ini, limfosit yang telah teraktivasi secara spesifik oleh antigen akan membentuk fungsi efektor yang akan mengeliminasi antigen. Antibodi dan sel T akan mengeliminasi mikroba secara ekstras seluler dan intraseluler.
4. Homeostasis
Pada fase terakhir respon imun, sistem imun akan kembali pada keadaan awal. Hal ini disebabkan karena sel limfosit mengalami program kematian dengan sistem apoptosis.
Sel limfosit Th dan Tc mempunyai spesifisitas yang luar biasa terhadap antigen. Sel-selnya hanya mengenali peptida antigen yang terikat pada protein yang dikodekan oleh gen major hystcompatibility complex (MHC). Molekul MHC ini diekspesikan pada permukaan sel tertentu yang dikenali sebagai antigen presenting cell (APC). Satu penemuan penting dalam identifikasi dan analisis subset sel T ini adalah bahwa populasi sel ini mengekspresikan protein permukaan yang berlainan yang bertindak sebagai penanda fenotip. Misalnya sel Th mengekspresikan satu protein permukaan yang disebut CD4, sementara sel Tc mempunyai satu protein permukaan yang disebut CD8.

Major Histocompatibility Complex (MHC)
Terdapat 2 jenis molekul MHC, yaitu kelas I dan kelas II. Molekul-molekul ini tergolong ke dalam superfamili imunoglobulin, tetapi MHC tersebut bukan imunoglobulin. Molekul MHC kelas I berada pada permukaan semua sel yang mempunyai nukleus tetapi molekul MHC kelas II menunjukkan corak pengekspresan yang lebih terbatas. Major Histocompatibility Complex kelas II diekspresikan pada permukaan sel B, sel dendritik dan sel epitelium timus. Pada sel-sel lain seperti makrofag, sel T yang teraktivasi dan sel endotelium, pengekspresiannya dipengaruhi oleh sitokin seperti IFN.
Molekul MHC I terdiri dari satu rantai  (43 kDa) dan satu peptida kecil mikroglobulin  (12 kDa). Rantai  terdiri dari 3 domain luar sel yang disebut ,  dan . Lekuk (alur) (groove) yang terbentuk dari domain  dan  merupakan hasil penggabungan peptida. Suatu molekul MHC I dapat bergabung dengan beberapa jenis peptida tetapi lebih cenderung bergabung dengan peptida yang mempunyai motif tertentu, yaitu peptida-peptida yang mempunyai motif asam amino (antara 8 -9 residu) yang sama pada kedudukan tertentu. Ini bermakna suatu molekul MHC dapat bergabung dengan banyak peptida yang berbeda motif asam amino.
Molekul MHC kelas II terdiri dari satu rantai  (35 kDa) dan satu rantai  (28 kDa). Domain luar sel molekul MHC II disebut , ,  dan . Lekuk pada molekul MHC II terbentuk dari interaksi domain  dan . Lekuk ini bergabung dengan peptida linear (12 - 20 asam amino).
Molekul-molekul MHC mempunyai 2 fungsi utama:
• bergabung dengan peptida dari antigen protein
• berinteraksi dengan reseptor sel T (TCR) setelah peptida tersebut tergabung
Patogen seperti bakteri dan virus dapat memasuki dan menginfeksi sel tubuh. Sel T diperlukan untuk mengatasi sel-sel yang terinfekasi oleh antigen tersebut. Oleh karena itu sel T harus dapat membedakan antara sel terinfeksi dan sel tak terinfeksi. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan adanya peptida yang berasal dari antigen yang membentuk kompleks dengan MHC. Proses penggabungan dan penampilan antigen tersebut di permukaan sel terinfeksi kepada sel T disebut dengan pemprosesan dan persembahan antigen (antigen processing and presentation). Molekul MHC berperanan penting dalam fenomena ini kerana ia bergabung dengan pecahan peptida tertentu di dalam sel dan mengangkutnya ke permukaan sel. Pada permukaan sel kompleks peptida dan molekul MHC akan dikenali oleh sel T yang mempunyai reseptor sesuai. Oleh kerana peranan penting yang dimainkan oleh molekul MHC dalam interaksi dengan sel T, aktivitas sel T bersifat terbatas oleh MHC (MHC-restricted). Fungsi molekul MHC I ialah untuk mempersembahkan peptida yang berasal dari protein asing kepada sel T CD8+ (sel T sitotoksik) dan fungsi molekul MHC II adalah mempersembahkan peptida kepada sel T CD4+ (sel T penolong).
Selain makrofag, sel B, sel dendritik dan sel epitelium juga dapat memproses dan mempersembahkan antigen. Sel yang mempersembahkan antigen (antigen presenting cells; APC) mencerna antigen menjadi peptida kecil. Proses ini disebut pemprosesan antigen. Kemudian kompleks peptida-MHC diekspresikan pada permukaan APC. Katabolisme protein menjadi peptida terjadi dalam 2 bagian sel: (1) dalam sitoplasma dan (2) dalam vesikel. Peptida yang dihasilkan dalam sitoplasma APC akan bergabung dengan molekul MHC I. Antigen-antigen ini disebut juga antigen endogen (endogenous antigen) dan contoh-contohnya termasuk protein virus yang disintesis oleh sel terinfeksi. Antigen eksogen (exogenous antigen) (yaitu yang dihasilkan di luar APC, seperti banyak protein bakteri luar sel) yang memasukki sel melalui fagositosis, endositosis atau pinositosis, akan bergabung dengan molekul MHC II setelah pemrosesan dalam vesikel. Peptida-peptida yang dihasilkan dari hasil pemecahan protein antigen kemudian menjadi epitop imunodominan untuk antigen ini dalam individu tersebut.
CD4+CD25+ Regulatory T cell

T regulator (Treg), yang mengandung protein CD4+CD25+ pada permukaannya, memiliki peranan pada proses pembedaan self dan nonself. Treg atau yang dulunya dikenal sebagai sel T suppressor, merupakan suatu bagian sel T yang memiliki kekhususan untuk menghambat aktivasi sistem imun, sehingga akan mencegah terjadinya reaksi autoimun yaitu suatu keadaan dimana sistem imun akan menyerang sel-sel sehat pada tubuh (self) antigen. Sel Treg dalam fase yang aktif akan mensekresi interleukin-10 (IL-10) dalam jumlah besar dan transforming growth factor-beta (TGF-B) dimana keduanya merupakan mediator sel yang berfungsi sebagai imunosupresan. Kedua limfokin ini akan menghambat produksi T-cell helper (CD4+) dan T-cell Sitotoksik (CD8+) sehingga akan menghambat respon imun. Respon imun juga dihambat oleh melalui interaksi cell-to-cell antara Treg dengan T-cell CD4+ dan CD8+ (Gambar 4). Gambar 4 dibawah ini menjelaskan secara singkat mengenai mekanisme kerja imunoregulasi yang dilakukan Treg. CTLA-4 pada Treg dapat merangsang sel-sel dendritik untuk menghasilkan IDO yang dapat mengurangi atau menkatalisasi tryptophan, suatu asam amino yang penting untuk memecah sel secara cepat, sehingga dapat menghambat produksi sel T Sitotoksik dan mencegah proliferasi sel T.
CD4+CD25 high sel Treg mengeluarkan CD28 pada permukaannya dan juga menghasilkan CTLA-4 intraselular namun tidak pada permukaannya. Stimulasi via T cell receptors dan CD28-mediated costimulasi dibutuhkan sel-sel Treg untuk melakukan supresi. Dalam keadaan teraktivasi CD4+CD25 high Treg cells dapat menghasilkan CTLA-4 pada permukaannya dan menekan CD4+ T cells dan CD8+ T cells melalui interaksi antar sel atau sekresi sitokin imunoregulatori seperti TGF-B atau IL-10, serta memicu ekspresi IDO pada APC. Peranan T Regulator yang diharapkan dapat mengarah pada dua mekanisme yang berbeda. Peningkatan kadar T Regulator dapat menginhibisi sifat sitotoksik dari CD8 dan sel Natural Killer (NK) melalui mekanisme langsung dari sel ke sel (Rusdi, 2009). T cell receptor juga mempunyai peranan dalam proses apoptosis sel. Proses ini terjadi apabila sel T mengenali antigen-diri (self antigen) dan merupakan suatu proses yang diperlukan untuk menyingkirkan sel T autoreaktif. Apoptosis ini disebut apoptosis yang diinduksi aktivasi (activation induced apoptosis).
Apoptosis yang diinduksi aktivasi ini juga terdiri atas fase induksi yang dirangsang dengan pengikatan TCR, disusul oleh fase efektor di mana terjadi berbagai reaksi biokimia untuk melangsungkan apoptosis (Kresno, 2006).

Kresno, S.B. 2006. Disregulasi Apoptosis pada Keganasan: Telaah Khusus pada Astrocytoma. Simposium: Apoptosis Charming to Death. Jakarta: 8-10 Desember 2006
Rusdi, G. 2009. Sebaran Kadar Sel T Regulator Cairan Peritoneum Pasien Endometriosis. Departemen Obstetri dan Genekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Jakarta

for getting the .doc file, you can download it by click this link
Read More..

Simple Understanding About Pinging The Website

Honestly, I got this when I tried to find a way how to get my blog visited by tons of people...:lol:
By the way, there are so many way how to get it, one of them is PING our blog so that, we could get it crawled by the search engine robots like Google had..But if you don’t know what Blog and Ping is, don’t feel bad, because most people don’t.
This is the site where the words I took exist..
For those of you too young or who never got into writing more traditional web pages, basically getting your webpage into Google, Yahoo or other search engines has always been somewhat difficult. The time it takes for your static web site to be indexed by Yahoo for example after you submit it to them without taking up the paying option is around 6 weeks, and sometimes longer. Blogs changed the rules of indexing because where as you use to have to wait for the search engines to index you, all of a sudden bloggers could wave a big red flag with the words “I’m over here” written on it and the search engines would come. Pinging a central server such as meant that a central list was available of blogs that were posting at a given point in time, and the search engine spiders then followed the links on these lists and bingo: your blog gets indexed.
Like calling someone by does the ping thing..
some addresses you can visit the site to begin pinging your site, among others, the following

This is an example page from the web site to ping ping-o-matic. But basically, all the sites to ping the website has a similar interface and everything is easy to apply.

Ping can be considered a way to tell that we update the site to search engines, including Google, Yahoo, etc..So after a webmaster finished updating the website such as inserting a new article then the ping should be made to notify search engines that our site has been updated and is ready to at-index (captured or filtered) return to the search engine so that our website or in particular a new article is inserted can be contained in the search engines and can be viewed by visitors to search engines when searching words related to our website or article earlier.
IMPORTANT: do not often to ping a blog, since your blog will be considered spam and can be deleted by Google, do ping blog if after updating the blog only.
Read More..

Mencoba Mencari Makna Idul Fitri, Silaturahmi, dan Halal Bihalal

Sebagaimana kita ketahui bersama, kita telah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada seluruh pengikut Muhammad SAW..sehingg pada saat ini, kita pun memasuki bulan syawal yang ditandai dengan adanya Idul Fitri..
Masyarakat Indonesia mayoritas merupakan pemeluk agama Islam yang sangat membudayakan kegiatan tahunan, MUDIK dan HALAL BIHALAL...

Mudik dapat diartikan sebagai kegiatan melakukan perjalanan ke tempat-tempat tertentu,misalnya kota kelahiran,rumah orang tua,dan sebagainya untuk melakukan silaturahmi atau yang biasa disebut halal bihalal...

Oleh Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Buku Lentera Hati Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.
Read More..

Infertility in Woman

The causes of infertility in human varies amongs the individual.
The female infertility oftenly caused by the exixtence of the problems ib tubal ovarian, the hormone imbalance, cervical problems, and several unknown causes.
Factors involved in fertility: 

1- Spermatogenesis (male factor).
2- Ovulation (ovulation factor).
3- Mucus and sperm interaction (cervical factor).
4- Endometrial integrity and cavity size and shape (uterine factor).
5- Oviductal patency and anatomic relation to the ovary (tubal factor).
6- Insemination (coital factor).

For further explanation, many tables, images, and etc. about how does the fertility decine with the increase of maternal age, ART Treatments for Infertility, IVF with Embryo Transfer, Intrauterine Insemination (IUI), Zygote Intrafallopian Transfer (ZIFT), Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI),

please download this presentation file (*.ppt)
file powerpoint female infertility
Read More..

Infertility Problem in Human


The terms of infertility could be defined by:
§ Infertility is one year of unprotected coitus without conception
§ The term "primary infertility" is applied to the couple who has never achieved a pregnancy
§ "secondary infertility" implies that at least one previous conception has taken place

The prime causes of infertility (not applicable to all population):
- coital problems
- endometrical mucous
- tubal damage
- ovulatory failure
- sperm problem
- and many of unexplained causes (up to 25%) for all causes

For further explanations about the infertility in humans, tables, and images about it,
(Hormonal Feedback and the Regulation of the Male Reproductive Function, The Hormonal Regulation of Ovarian Activity, More details on male infertility, etc.)

Please follow this link and download the powerpoint file

 file powerpoint Infertility
Read More..


1. HIV (human immunodeficiency virus) dan AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome)

            Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) diidentifikasi sebagai suatu penyakit yang baru pada tahun 1981 dan agen penyebabnya, yaitu virus HIV (human immunodeficiency virus) teridentifikasi pada tahun 1983. Virus HIV yang telah diketahui antara lain HIV-1 dan HIV-2. Kedua tipe virus HIV tersebut mempunyai kesamaan struktur, tropisme dan akibat yang ditimbulkan, meskipun keduanyan mempunyai homologi sekuens nukleotida yang terbatas (42%) dan reaktivitas antigenik silang yang terbatas pula. Virus HIV ditularkan paling utama melalui aktivitas seksual, pertukaran darah atau cairan tubuh yang telah terkontaminasi virus dan dari ibu ke anaknya. Limfosit T CD4+, monosit dan makrofag adalah target yang utama dari HIV (Pantaleo, 2007).
Read More..

hello...welcome to my blog

first of all...this is the fist time I decided to create a blog..I have no idea what I have to say, what I have to share, and what I have to show You about my blog...

but, in the meantime, I was thinking of give another people some informations, about my daily activities, my colleges stuffs, and something like that. I think that what I'm doing by creating a blog is reasonable...when I was in college (Brawijaya University, and I took the Biology program as my major on 2006), I usually search alot of informations to complete my weekly assignments. I had many kind of assignments, such as laboratory reports, presentations, and any others..And VOILA!!...aI got it from people's blogs, although many of my lecturers or my laboratory assistant wouldn't allow that...but, I don't care..because at least, I can get to hell with it...

By the time I post this entry, it means that I am ready blogging....

with all regards, Read More..

New Category!!

Beberapa hal yang penting untuk diketahui para remaja pada saat mulai memasuki usia puber. KLIK!!